Langsung ke konten utama

MONOKROM

     Tulisan ini ditulis dalam perasaan rindu tentang warna dalam hidup. Pernah nggak sih, waktu kita sibuk ngerjain sesuatu, kita tiba-tiba berhenti. Bingung kenapa yang kita kerjakan itu terus, seolah-olah hidup kita ga ada perubahan. Pernah ngga sih waktu kita diam, menjelang tidur mungkin kita tuh flashback , mencoba mengingat lagi apa saja yang pernah terjadi, dalam beberapa part kita tersenyum dalam part lainnya kita tertawa. Setelah dipikir-pikir, semuanya berlalu begitu saja ya. Dan mungkin hari ini, ada banyak kejadian yang buat kita emosional (dalam arti terlalu bahagia atau terlalu sedih).
Setelah memastikan beberapa moment masih jelas dalam ingatan, pernah ngga sih kita mengingat orang-orang yang ada dalam kenangan kita, dalam pendidikan misalnya, perjalanan, asmara, persahabatan, perjuangan, dan lain sebagainya. Orang-orang yang pernah menggores warna dalam beberapa jejak langkah kita, orang-orang yang menghantarkan kita menjadi pribadi saat ini. Warna-warna yang mereka berikan waktu itu mungkin menjadi warna monokrom saat ini, Warna yang tak hilang namun menjadi satu nada warna yang saling melengkapi dan bahkan menjadi goresan hitam dan putih.

Ada banyak kenangan yang kita punya, ada banyak teman baru dan akhirnya kita lupa, mungkin sesekali kita bertemu namun berusaha keras untuk mengingat “aduh, siapa ya namanya?”, “ini teman TK,SD, SMP, atau SMA ya?”, “duuh.. ini mantan pacar keberapa yaa?”(kalua ada hehehe). Manusiawi ketika kita lupa karena ingatan kita memiliki ruang terbatas untuk mengingat semuanya dengan jelas, namun ada beberapa bagian yang mungkin kronologis nya kita ingat persis.

Dulu sampai sekarang, kalau ika pulang kerumah nenek, nenek sering cerita sebelum tidur dan pernah satu waktu nenek bilang : semakin kita tua, kita bakalan susah untuk tidur, di waktu itu yang kita ingat adalah bagaimana waktu kita muda, bagaimana orang-orang ada dalam hidup kita namun satu per satu pergi, mungkin melanjutkan kisah hidup nya atau mungkin kembali ke Allah SWT. Saat itu juga, kita pasti mencoba menereka-nerka, dimana yaa dia sekarang, bagaimana keadaannya, bahkan kita sampai memikirkan, apakah dia masih hidup? Pun terkadang kita bahkan bisa sampai menangis karena kita rindu masa-masa suka atau duka yang pernah kita alami, bukan untuk mengulang karena memang tidak akan pernah bisa, tapi untuk dikenang dan paling tidak ingin bertemu dengan orang-orang dalam monokrom kehidupan kita
 
Nenek juga bilang, “ selagi masih muda, jangan sampai menyakiti orang yang sayang, peduli, baik, dan selalu bantu kita, karena orang-orang seperti itu akan jadi orang-orang yang paling kita rindukan”. Saat ini mungkin kita masih mementingkan diri kita sendiri, bagaimana kita bahagia tanpa memikirkan perasaan orang lain, bagaimana kita terbuai dengan kenikmatan dan dengan angkuh nya banyak orang yang kita sakiti dengan lisan juga perangai kita”. Ternyata nenek benar, mungkin 10 tahun yang lalu ika cuma memikirkan “besok jajan apa ya? Besok pulang sekolah main apa ya? Minggu depan beli majalah bobo yang mana lagi ya? Tapi saat ini, umut ika 20 tahun, banyak kesalahan yang ika lakukan, banyak hal yang sudah ika lewati ternyata semakin banyak yang harus dipikirkan, terkhususnya saat ini semakin banyak yang ika rindukan, ingin sekedar bertemu dan meminta maaf secara langsung mungkin pernah menyakiti.

Ada banyak hal yang bisa kita jadikan pelajaran, dari cerita orangtua, dari kisah orang lain, dari penggalan jalan kehidupan, dari perjuangan, pengorbanan, kecewa dan gagal. Tulisan ini ika buat untuk mengingatkan ika beberapa tahun kemudian apa yang pernah ika tulis hari ini tentang “ monokrom” warna selaras yang merangkai jejak jejak kehidupan. Dan tulisan selanjutnya juga akan menceritakan tentang, kamu, kita, kalian dan siapapun yang pernah memberi warna dalam setiap langkah yang sudah dilewati. Dari tulisan ika mengekspresikan diri..

Dan terimakasih untuk orang-orang yang selalu mendukung ika untuk menulis


Salam, ikaa



Komentar